Beberapa waktu lalu saya dan Nisa putri saya satu-satunya terlibat dalam pembicaraan yang seru. Intinya saat itu saya berkisah tentang masa kecil saya yang sudah memiliki kamar tidur sendiri saat seusianya. Saya bercerita tentang kamar tidur yang saya hias sendiri sesuka hati dengan bantal-bantal cantik, pernak-pernik dan boneka lucu, serta nuansa warna kamar yang menarik. Bahkan saya juga bercerita betapa penuhnya dinding kamar dengan poster artis film dan juga penyanyi idola, seperti boyband luar negeri New Kids on The Block, Backstreet Boys, Boyzone, Take That, yang amat sangat kondang saat itu. Ada pula poster penyanyi Peter Cetera, Michael W Smith, Bobby Caldwell yang lagu-lagunya masih saya dengarkan sampai sekarang. Nah, jadi ketahuan kan saya termasuk generasi apa. Ups!
Mendengar cerita saya, Nisa jadi sangat tertarik. Apalagi Nisa termasuk anak yang suka sekali mengoleksi blind box, yaitu boneka mini yang sangat viral dengan berbagai karakter lucu dan selalu menjadi incaran anak perempuan ketika berkunjung ke toko pernak-pernik. Selain itu Nisa juga bercerita jika saat ini ia juga sudah memiliki beberapa idola. Intinya Nisa ingin mempunyai kamar sendiri, agar juga bisa merasakan keseruan yang sama seperti masa kanak-kanak saya. Terlebih ketika saya pernah menunjukkan konten seorang remaja, yang sering menceritakan kesehariannya saat mengatur kamarnya sendiri, dan Nisa pun menjadi terinspirasi karenanya. Keinginan mempunyai kamar sendiri pun semakin besar.
Sebenarnya sudah lama saya memikirkan hal ini, bahwa pada akhirnya Nisa harus mempunyai kamar sendiri. Tetapi niat ini tidak serta merta bisa saya wujudkan dalam waktu singkat, karena beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan dengan matang. Namun pastinya pelan-pelan niat ini harus saya realisasikan karena pastinya akan bermanfaat bagi kehidupan Nisa selanjutnya.
Mengapa Anak Belum Memiliki Kamar Sendiri?
Ada sebagian orang tua yang merasa belum perlu memberikan kamar tidur sendiri untuk anak-anaknya. Bagi mereka ada beberapa sebab yang mendasari keputusan mereka.
Kondisi Rumah
Kondisi rumah yang terbatas menjadikan orang tua berpikir ulang sangat ingin memberikan kamar pribadi untuk anaknya. Selain itu bisa jadi keterbatasan dana yang ada, belum memungkinkan hal itu bisa terwujud dengan mudah, karena merenovasi rumah pastinya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Terlebih ketika orang tua belum menempati rumah sendiri seperti masih tinggal bersama mertua, mengontrak atau tinggal di sebuah kamar kos.
Pemikiran Orang Tua
Beberapa orang tua berpikir kamar tidur pribadi belum diperlukan ketika anak masih kecil. Apalagi ketika si anak masih sering takut ditinggal sendiri, atau ketika orang tua dan si anak masih terbiasa tidur bersama. Alasan lain bisa jadi karena orang tua masih mengkhawatirkan keamanan si anak, dan merasa belum perlu memberikannya, agar si anak belajar bertanggung jawab terlebih dahulu, sehingga nanti sudah siap saat memiliki kamar sendiri.
Dari Sudut Pandang Anak
Dari segi usia, ada anak-anak yang belum cukup umur untuk mempunyai kamar sendiri. Terlebih ketika usia anak masih terlalu dini serta belum mengalami perkembangan dari segi fisik dan emosionalnya. Kadang ada pula orang tua yang sangat khawatir ketika anaknya sudah memasuki usia remaja tetapi sudah mempunyai kamar pribadi, karena takut si anak justru lebih banyak mengurung diri dengan ponselnya atau kegemarannya sendiri, daripada bersosialisasi dengan teman-temannya.
Nah, alasan-alasan tersebut di atas juga sempat mempengaruhi saya hingga saat ini belum memberikan kamar sendiri untuk Nisa. Tetapi jujur niat ini suatu saat akan saya wujudkan karena pastinya hal ini akan sangat bermanfaat bagi keseharian Nisa kedepannya.
Anak perempuan yang memiliki kamar sendiri akan melatih dirinya untuk mandiri dan bertanggung jawab. Ia akan belajar untuk mengatur kamarnya sendiri, menjaga kebersihannya dan belajar untuk menjaga barang miliknya dari kerusakan. Jika sudah terbiasa melakukannya, maka ia akan lebih mudah menunjukkan kemandirian dan tanggung jawab untuk hal-hal lain yang lebih besar.
Kebutuhan Privasi dan Membangun Kepercayaan Diri
Semakin beranjak dewasa, seorang anak perempuan membutuhkan privasi dalam kehidupannya. Sifatnya yang cenderung lebih banyak mengandalkan perasaan saat menghadapi sesuatu, membutuhkan sebuah ruang untuk mengeluarkan segala ekspresi dalam dirinya seperti saat sedih, bahagia atau ketika sedang lelah. Tak hanya belajar menghargai privasi untuk dirinya sendiri, ia pun akan belajar juga untuk menghargai urusan pribadi orang lain. Anak perempuan juga perlu perlu untuk mulai membangun kepercayaan diri, dengan mengetahui apa kemampuannya dan bagaimana cara mengembangkannya, dan itu semua juga berawal dari mempunyai kamar sendiri.
Menghindari Perselisihan dan Persiapan Memasuki Masa Remaja
Seiring perkembangan usianya, anak perempuan membutuhkan ruang untuk mengenali dirinya, sebagai seorang remaja yang akan terus berkembang menjadi perempuan dewasa. Otomatis ia harus menjaga dengan baik segala bentuk privasinya. Terlebih ketika ia mempunyai saudara laki-laki yang jelas memiliki banyak perbedaan dalam segala hal. Adanya kamar pribadi memungkinkannya untuk menjaga agar terhindar dari perselisihan dengan saudaranya sendiri.
Memberikan Kualitas Tidur yang Lebih Baik
Hal yang tak kalah penting ketika seorang anak perempuan sudah memiliki kamar tidur sendiri adalah ia akan belajar mengatur jadwal tidurnya dan berusaha untuk mematuhinya. Ia pun akan memiliki kualitas tidur yang lebih baik, karena terbebas dari gangguan dan jauh lebih mendapatkan ketenangan saat benar-benar ingin beristirahat.
Wah, ternyata mempunyai kamar pribadi memberikan banyak manfaat ya untuk anak perempuan. Semoga suatu saat saya bisa mewujudkannya untuk Nisa. Bagaimana dengan teman-teman? Apakah sudah ada rencana untuk membuatkan kamar sendiri bagi putra dan putrinya? Atau bahkan sudah merealisasikannya?

0 Komentar